Abdi Desa Himpunan Mahasiswa Teknik Desain dan Manufaktur 2019

Shares 0

Tak hanya ”duduk manis” di bangku kuliah, mahasiswa juga harus bergerak untuk meningkatkan kapasitas diri agar bermanfaat bagi sesama. Berkaitan dengan keinginan itu, beberapa waktu lalu Divisi Sosial Masyarakat Himpunan Mahasiswa Teknik Desain dan Manufaktur, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya ,mengadakan acara bertajuk ”Abdi Desa” Program itu diadakan di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Kota Sidoarjo, Jawa Timur, pada akhir Januari ditanggal 26-28 Januari.

Lokasi Dusun Kepetingan bisa dibilang cukup terisolir, karena berada ditengah-tengah antara lautan dan area pertambakan. Sedangkan akses untuk menuju ke Dusun Kepetingan dapat dijangkau dengan melalui dua jalur, yakni: jalur darat dan air. Akan tetapi jalur darat hanya bisa ditempuh ketika musim kemarau saja. Hal ini di karenakan jalan menuju Dusun Kepetingan hanya bisa di lewati melalui pematang tambak yang lebarnya kurang lebih hanya 30cm. disamping itu tidak semua orang memiliki kemampuan untuk melalui pematang tambak yang jalannya sempit dan permukaan tanah yang tidak rata, apabila tidak berhati-hati kemungkinan besar bisa jatuh tercebur kedalam tambak yang luas dan dalam. Waktu yang ditempuh melalui jalan darat sekitar 30-45 menit dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam, sedangkan jika ditempuh melalui jalur air dengan perahu motor (warga Dusun sekitar menyebutnya “Barito”) memakan waktu sekitar 45-60 menit, dengan ongkos yang sangat mahal.

Kondisi Dusun Kepetingan yang termasuk dalam kategori Dusun Terpencil, yang di picu oleh sulitnya sarana transportasi menuju lokasi Dusun tersebut, membuat segala harga kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier sangat mahal, Sebagian besar warga Dusun Kepetingan bermata pencaharian sebagai seorang nelayan dan buruh tambak, sedangkan untuk ibu-ibu menjadi ibu rumah

tangga membantu suami mengurus putra-putrinya di rumah. Meskipun berada di kawasan Sidoarjo yang notabene termasuk kota yang UMR-nya sudah memenuhi rata-rata, akan tetapi masih ada beberapa kawasan yang tertinggal, seperti Dusun Kepetingan ini yang diperparah dengan tidak adanya fasilitas umum yang memadai dan layak, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan dan fasilitas umum lainnya.

Di Dusun Kepetingan sudah ada POSKESDES dan sarana pendidikannya, untuk pelayanan kesehatan biasanya hanya 1 bulan sekali, yang mana petugas  kesehatannya di datangkan dari Desa Bluru. Jadi seandainya ada warga Dusun Kepetingan yang sakit di luar jadwal pemeriksaan, maka warga tersebut harus menunggu sampai hari yang telah di jadwalkan, atau jika membutuhkan pelayanan kesehatan mendadak seperti melahirkan, jika warga tersebut berkecukupan bisa  memanggil dokter datang ke rumahnya. Akan tetapi jika dari kalangan menengah ke bawah, maka harus naik perahu motor (Barito) menuju puskesmas atau rumah sakit terdekat dari Dusun tersebut, tak jarang warga yang melahirkan di dalam Perahu motor, karena jarak menuju pelayanan kesehatan yang jauh.

Dusun Kepetigan dikelilingi oleh hutan bakau dan bukan lagi jarang jika banjir selalu mendatangi dusun ini jika air laut sedang pasang. hal ini yang menggerakkan himpunan mahasiswa TDM untuk mengadakan kegiatan Abdi desa pada dusun Kepetingan.  Abdi desa merupakan salah satu program kerja Divisi Sosial Masyarakat Himpunan Mahasiswa Teknik Desain dan Manufaktur untuk membangun desa menuju desa madani. Lewat program itu, diharapkan mahasiswa dapat membantu warga desa untuk mengembangkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada. Pelaksanaan Abdi desa ini melibatkan lebih dari 20 volunteer dan puluhan panitia dari berbagai angkatan dalam himpunan.

Kegiatan harian

Volunteer dan panitia berangkat pukul 6 pagi ditanggal 26 januari dan tiba disiang hari, disana kami disambut hangat oleh beberapa masyarakat dan warga sekolah sekitar, Keadaan sekolah ini cukup memprihatinkan. Lapangan sekolah tidak ada. Ruang kelas terdiri atas 6 ruang yang 3 ruang digunakan untuk SD dan 3 ruang lainnya digunakan untuk SMP. Jadi 1 ruang kelas diisi dengan 2 kelas yang hanya disekat dengan papan. Bila terjadi pasang air laut, sekolah dan rumah warga bisa terendam air. Dihari pertama para volunteer dan panitia melaksanakan kegiatan Belajar Bareng DM di sekolah untuk mengajar mulai dari SD dan SMP di desa tersebut. Mengajar dimulai sejak pagi sampai dzuhur tiba. Dilanjut mengaji di masjid dan TPQ serta pembukaan kegiatan Abdi desa yang dilaksanakan ketika malam hari dan dihadiri warga sekitar dan tokoh-tokoh masyarakat dusun kepetingan, tak lupa setelah pembukaan diadakan evaluasi harian serta briefing untuk acara selanjutnya, dihari kedua para volunteer serta panitia mengadakan senam Bersama warga sekitar di area lapangan sekolah dilanjut dengan bersih-bersih desa hingga siang hari, kemudian dilanjutkan dengan Belajar Bareng DM dan saat malam dihari kedua tiba dilaksanakan acara pentas seni yang dihadiri oleh anak-anak dan warga sekitar dan dilanjutkan dengan berbincang mengenai keadaan alam, sosial, dan ekonomi yang dihadapi oleh dusun kepetingan yang diwakili oleh bapak kepala dusun, pak RW, serta beberapa warga desa sekitar dan selanjutnya tak lupa untuk melaksanakan evaluasi hari kedua dan briefing untuk acara yang akan diadakan di hari berikutnya, dihari ketiga volunteer dan panitia mengadakan pasar murah yang memperjualbelikan bahan sembako dengan harga super murah yang dapat diikuti oleh semua warga yang telah diberi kupon yang telah dibagikan sehari sebelum pasar murah dibuka, disamping kegiatan pasar murah beberapa volunteer ditugaskan untuk mengajar disekolah untuk mengajar dan bermain dengan siswa siswi disekolah sembari berpamitan kepada seluruh warga sekolah.

Abdi Desa kali ini terbilang sukses, meskipun ada beberapa agenda yang belum terlaksana. Mengingat kegiatan ini adalah untuk pertama kalinya  Divisi SosMas HIMATDM mengadakan acara bergengsi dan sangat bermanfaat seperti ini.

 

 

 

 

 

 

 

Shares 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *